Review: Ketika Hidup Kian Digital dan Menembus Batas

Bagaimana rasanya hidup tanpa internet di masa sekarang? Aduh, kalau pertanyaan itu dialamatkan ke saya, mungkin saya bakal bingung membayangkan betapa irama hidup terasa hampa tanpa internet.

review switch mobile

Review: Ketika Hidup Kian Digital dan Menembus Batas. (Foto: Instagram/switchmobile.id

review switch mobile
Review: Ketika Hidup Kian Digital dan Menembus Batas. (Foto: Instagram/switchmobile.id

Bagaimana rasanya hidup tanpa internet di masa sekarang? Aduh, kalau pertanyaan itu dialamatkan ke saya, mungkin saya bakal bingung membayangkan betapa irama hidup terasa hampa tanpa internet.

Contoh kecil saja, ketika saya mengistirahatkan smartphone karena sedang di-charge, meminjam istilah sekarang, saat itulah masa kegabutan dimulai. Walau cuma satu atau dua jam saja, rasanya ada sesuatu yang hilang dalam diri saya.

Apakah ada yang sama dengan saya? Tos dulu dong.”

Terlebih lagi di masa pandemi saat ini, hampir semua lini kebutuhan hidup dipaksa untuk bertransformasi ke sistem digital. Jika bukan karena pandemi mungkin saya tidak akan mengalami yang namanya work from home atau WFH.

Selain untuk tempat kerja, rumah saya juga menjadi tempat bersekolah dari rumah melalui pembelajaran online bagi anak saya. Hal yang sama dengan rumah-rumah di lingkungan saya.

Aktivitas belanja pun makin menjadi-jadi karena saya dan orang-orang yang tinggal di kompleks perumahan kami, kini lebih sering berbelanja secara online. Tak heran jika setiap hari selalu saja ada kurir pengantar paket dan makanan yang hilir mudik datang ke lingkungan kami. Nah, lambat laun berbelanja ke mal pun pada akhirnya berubah menjadi sekadar kenangan saja.

Namun di sisi lain, karena istri saya juga pelaku usaha online, situasi ini juga berimbas pula pada meningkatnya permintaan produk. Maka ketika kurir ekspedisi datang ke rumah kami, selain untuk mengantar barang belanjaan, juga ada yang mengambil barang yang dipesan oleh orang lain dari berbagai daerah.

Meski demikian, akibat terlalu banyak di rumah, kebosanan tentu mengancam dan ujung-ujungnya bisa bikin uring-uringan karena kurang hiburan. Lagi-lagi menyelami dunia internet adalah jalan terbaik untuk mencari jenis hiburan yang beragam.

Jika sebelum pandemi tontonan film saya hanya 1-2 film saja tiap bulan, sekarang bisa lebih dari itu. Tak hanya melalui layanan streaming film, bahkan YouTube pun saya obok-obok untuk mencari film pendek berkualitas yang ternyata sangat banyak bertebaran. Setali tiga uang dengan istri saya yang kian melebarkan sayap tontonan malamnya, dari semula cukup drama Korea saja, kini merambah hingga ke jenis lainnya, kecuali film horor pastinya. Hiii.

Belum lagi kebutuhan mencari informasi positif untuk menambah wawasan. Jika sebelumnya paling ogah kalau diajak mengakses sebuah kegiatan secara live streaming, sekarang mah, jangan ditanya. Tak jarang pekerjaan saya memang mengharuskan saya hadir secara live melalui aplikasi Zoom atau Google Meeting. Saya juga makin familiar mengikuti berbagai acara secara live streaming melalui YouTube maupun Instagram.

Selain tentu saja kegiatan bermedia sosial untuk selalu update dan mengekspresikan diri, seperti Instagram, Twitter dan Facebook. Tak lupa, menulis artikel dan membaca di Kompasiana yang rasa-rasanya makin intens belakangan ini.

Kian hari kian digital pula hidup saya, meski untungnya muka saya tidak berubah jadi virtual. Sampai-sampai suatu ketika saya termenung sendiri usai menyadari bahwa hal seperti beli ember, tempat sabun sampai beli bibit tanaman pun saya lakukan secara online. Dunia ternyata cepat berubah, kawan. Menembus batas-batas yang bahkan tak terbayangkan dalam kurun beberapa bulan sebelumnya.

Segala aktivitas digital itu tentu saja berimbas pada naiknya kebutuhan kuota data internet dan satu hal lagi, yaitu nambah beli gadget baru.

Bagaimana tidak? Menimbang-nimbang bahwa kebutuhan aktivitas online saya dan istri juga meningkat pesat, maka anak saya yang harus bersekolah secara online pun sudah saatnya kami sediakan gadget khusus, dengan catatan harus disertai pengawasan ketat orang tua tentunya.

Berbekal hasil menyisihkan tabungan, syukurlah gadget baru bisa terbeli. Namun persoalan baru sempat muncul ketika mencoba menimbang operator mana dan layanan seperti apa yang mesti digunakan. Secara di rumah saya memang tidak tersedia wifi dan internet hanya bisa diakses di masing-masing gadget.

Bagaimana memilih provider yang tepat?

Sepertinya jodoh nggak ke mana, karena di waktu yang tepat muncul switch sebagai produk digital telco yang rasanya pas untuk kebutuhan kami. Eh tapi, digital telco? Apaan tuh?

Disebut digital telco, karena layanannya yang serba digital. Sebut saja pembelian kartu SIM yang hanya bisa dilakukan melalui aplikasi switch, dan kini pun bisa dipesan melalui marketplace Tokopedia, Blibli dan Shopee.

Waktu itu saya membeli kartu SIM langsung melalui aplikasi switch dan nggak pakai ribet. Kerennya, saya bisa memilih sendiri enam digit nomor belakang sesuai selera. Enak banget nih, saya bisa memilih nomor favorit yang mudah diingat dan unik. Kalau udah begini, switch bakal cocok banget bagi yang punya usaha jualan online. Nomor cantiknya itu lho kakak, ayo dipilih, dipilih.

belo nomor cantik switch
Review: Ketika Hidup Kian Digital dan Menembus Batas. (Foto: Instagram/switchmobile.id



Harganya saat ini masih murah banget, Rp10.000 untuk segala alternatif nomor yang masih tersedia. Kita bisa membayarnya pakai dompet digital seperti Gopay, OVO maupun Dana dan juga virtual account dari beberapa bank. Saat ini bahkan pembelian melalui aplikasi switch masih ada promo ongkos kirim. Nggak pakai nunggu lama, pesanan saya pun datang ke rumah hanya dalam hitungan kurang dari dua hari. Amazing.

kartu perdana switch
Review: Ketika Hidup Kian Digital dan Menembus Batas. (Foto: Widikurniawan)

Pembelian pulsa dan paket internet pun bisa dilakukan langsung secara online dan tidak dijual di gerai offline atau konter pulsa di pinggir jalan. Sangat cocok untuk mendisiplinkan anak tentang manajemen pemakaian pulsa dan data. Belajar dari kisah anak tetangga yang sering memakai uang jajan atau uang emaknya yang tergeletak di meja untuk diam-diam beli pulsa di konter milik abang-abang. Ya ampun, kid jaman now.

Melalui aplikasi switch, pengguna tidak perlu membeli pulsa, karena tidak menggunakan sistem tersebut. Saya hanya perlu membeli kuota melalui berbagai pilihan paket 4G yang disebut Service Plan. Untuk harga di golongan kategori Base Plan, pengguna bisa memilih paket Lite Bar seharga Rp50.000/3GB, Standard Bar seharga Rp100.000/10GB, Power Bar seharga Rp150.000/16GB dan Super Bar seharga Rp200.000/22GB.

Jika selama masa berlaku terdapat kekurangan kuota, kita bisa membeli paket Add-on seperti Boost 1 seharga Rp10.000/1GB dan Boost 2 seharga Rp20.000/2GB. So, nggak perlu lagi beli kuota penuh Base Plan jika masih ada masa aktifnya. Ini seperti nambah lauk di warung ketika nasi kita masih belum habis.

Nggak cuma itu, sekarang switch juga punya fitur baru namanya switch & match. Kuota switch & match ini membebaskan pengguna untuk mengatur sendiri besar kecilnya data yang diinginkan. Sehingga nggak perli takut kuota terbuang sia-sia dan lebih efektif, kan.

Hmm, apa? Harga paketnya masih mahal?

Sebentar deh. Sebelumnya kita harus luruskan logika murah dan mahal berkaitan dengan harga paket layanan telekomunikasi. Buat apa pula harga murah jika pada akhirnya saat pemakaian di lokasi kita sering hilang sinyal dan lemot. Begitu pula label mahal pada akhirnya memang pas disematkan pada layanan yang paketnya benar-benar menguras kantong tapi tidak sesuai ekspektasi terkait jaringan dan kecepatannya.

Nah, itulah mengapa sejak awal Switch Mobile Indonesia sudah menyarankan calon pengguna untuk memeriksa sendiri apakah daerah tempat tinggal kita termasuk area yang dijangkau oleh jaringan selulernya. Sebelum memutuskan untuk #readytoswitch, pengguna bisa ngecek melalui laman resmi switchmobile.id apakah lokasi tempat tinggal kita dan tempat-tempat yang sering kita singgahi benar-benar dijangkau jaringan switch. Melalui laman tersebut kita juga bisa ngecek apakah jenis gadget kita memang kompatibel dengan kartu switch. So, jika lokasi dan jenis gadget sudah sesuai, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk tidak #readytoswitch

Masih belum yakin juga? Well, segala info tentang switch bisa dipelajari melalui switchspot.id dan blog.switchmobile.id.

sim card switch
Review: Ketika Hidup Kian Digital dan Menembus Batas. (Foto: Instagram/switchmobile.id)



Satu hal lagi, keunggulan memakai switch adalah jaminan anti sedot pulsa. Jadi gini maksudnya, anti sedot pulsa tuh, nggak kayak provider kebanyakan yang suka tanpa ba-bi-bu tiba-tiba saja bablas nyedot pulsa utama kita saat lagi asyik-asyiknya menyelami dunia maya. Ini gara-gara kuota data kita nggak sadar ternyata sudah habis. Dongkol banget pastinya karena saya pernah mengalami hal seperti itu. Pengen nangis rasanya lihat sisa pulsa di layar smartphone, tapi bahkan air mata enggan keluar. Duh.

Berbeda dengan switch, dalam situasi seperti itu selalu ada kuota darurat yang memungkinkan kita agar tetap terhubung ke internet, walaupun kuota data utama sudah habis. Mantap jiwa banget nggak sih? Selain itu, switch tidak memiliki sistem pulsa, sehingga pengguna bisa langsung membeli kuota data, menit telepon atau SMS sesuai kebutuhan. Jadi, nggak takut sedot pulsa lagi, kan.

Lalu bagaimana pengalaman saya setelah memakai switch?

Terus terang pertama kali mengakses switch melalui aplikasinya, saya girang banget nemu deretan harga promo untuk beli kuota. Paling murah kita bisa membeli paket Lite Bundle seharga Rp60.000/6GB dan paket di atasnya yaitu Standard Bundle seharga Rp110.000/20GB.

Meski yang namanya paket promo sifatnya berbatas waktu, buat pelanggan baru seperti saya tentu bakal senang jika setiap bulan selalu muncul promo-promo dengan harga menarik. Ya kali aja ke depan harga promo malah jadi permanen. Eh.

Terlebih, aplikasi switch memang jadi semacam gudangnya promo. Ada banyak rewards yang bisa diperoleh dari aktivitas pembelian paket. Juga terdapat beragam arcade games dan action yang memang lagi ngetren seperti yang nempel di aplikasi milik marketplace. Kalau sudah begini, switch memang benar-benar excite everyday life.

Bagi saya, worth it banget lah pakai switch. Saya coba untuk tethering sampai tiga perangkat ternyata masih lancar-lancar saja.

Kini, nggak ada lagi situasi ketika mau join meeting susah banget nggak bisa masuk karena sinyal yang muter-muter. Nggak ada pula situasi lagi asyik-asyik meeting, eh malah putus sendiri gara-gara sinyal, jadinya pas mau masuk ya ribet lagi.

Utamanya buat kebutuhan belajar online, jika sinyal lancar siapa nggak senang sih? Mau kirim tugas berupa foto dan video ke guru ternyata tidak ada kendala.

Nah, kalau begini saya sih welcome saja ketika ada tetangga tergopoh-gopoh datang ke rumah dan minta bantuan tethering.

“Eh iya maaf mau ngerepotin tethering sebentar buat ngirim tugas sekolahan, tadi pulsa saya tiba-tiba habis belum sempat beli ke luar,” ujar tetangga.

Hmm, sepertinya tetangga saya ini perlu dikenalkan switch sesegera mungkin.

Review oleh: Widi Kurniawan (Juara 3 Blog Competition switch x Kompasiana).