Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal

Setiap membeli plan switch, kita bakal mendapatkan kuota murni tanpa dipecah-pecah. Sebuah sikap jujur dari perilaku perusahaan provider yang sudah lama hilang.

review sinyal switch

Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Shutterstock.com)

harga kuota switch
Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Shutterstock.com)

Setiap membeli plan switch, kita bakal mendapatkan kuota murni tanpa dipecah-pecah. Sebuah sikap jujur dari perilaku perusahaan provider yang sudah lama hilang.

Setelah terbengkalai sekitar dua tahun, proyek restorasi motor tua peninggalan ayah akhirnya tuntas pertengahan Agustus kemarin. Maka jadilah sebuah motor tril berkonsep vintage. Belakangan ini motor tril klasik memang sedang jadi tren di kalangan penggila offroad roda dua. Saya termasuk yang terbawa arus tren itu. Awalnya saya pengguna dirtbike pabrikan, sekarang beralih haluan jadi anggota Geng Tril Tua.

Proyek restorasi motor tua yang sudah lama mangkrak itu menghabiskan dana tidak lebih dari sepuluh juta rupiah. Konsepnya dibuat sederhana, tapi tetap memperhatikan secara saksama segi kenyamanan dan keamanan saat dibawa menjelajah medan offroad. Meski menghabiskan biaya tak lebih dari sepuluh juta rupiah, saya bertekad merangkai miliaran cerita bersama motor tril tua yang dikasih julukan Si Brandal ini.

Si Brandal memang bukan motor garuk tanah pertama yang mengisi garasi rumah, tapi kehadirannya sangat istimewa karena saya sudah lama memendam obsesi bertualang menunggangi tril tua. Bahkan sebagai sarana pendukung eksistensi, sejak jauh hari saya sudah membuatkan Si Brandal akun Instagram @brandaltriltua.

Dan untuk mendukung unggahan tentang petualangan Si Brandal di akun tersebut tentu saja butuh koneksi internet yang dapat diandalkan. Maklum, jalur offroad meliputi bermacam medan. Tak jarang harus menyusuri sungai, menerobos hutan, hingga merangsek pegunungan dengan elevasi ratusan bahkan ribuan meter di atas permukaan laut.

Mestakung! Dari situlah persinggungan perdana saya dengan switch berawal. Tepatnya ketika mencari tagar untuk kiprah Si Brandal di akun @brandaltriltua. Terinspirasi slogan pabrikan motocross terkenal asal Austria yang berbunyi #readytorace, saya memplesetkannya jadi #readytodirt. Sesuai peruntukannya, si Brandal memang didesain untuk akivitas dirtbike yang menuntut untuk selalu #readytodirt. Ternyata tagline itu terdengar muradif dengan slogan #readytoswitch yang diusung Switch Mobile Indonesia. Mungkin inilah yang dinamakan mestakung alias semesta mendukung. Segalanya klop. 

Pas Si Brandal selesai dibangun, pas ketemu switch. Eh ternyata dalam urusan moto pun punya kemiripan. Terinspirasi oleh jargon Ready to Race, diplesetkan menjadi Ready to Dirt, kemudian bersua produk digital telco yang mengusung semboyan Ready to Switch.

Menutut Cambridge International Dictionary of English, switch diartikan sebagai to change suddenly or completely from one thing to another, or to exchange one person or thing with another.

Yups, ketika mendambakan excite everyday life, kadang kita harus berani beralih secara suddenly dan completely dari kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Bila dalam urusan motor tril saja berani berubah haluan dari pengguna produk pabrikan menjadi anggota Geng Tril Tua, tak ada salahnya jika untuk keperluan koneksi internet beralih pula dengan meninggalkan produk konvensional lalu memilih provider kekinian. 

Maka dari itu, tanpa ragu pada Kamis (9/9/20) pukul 15.47 WIB, saya memesan kartu SIM switch via aplikasi. Prosesnya sangat mudah. Harganya pun super murah. Sepuluh ribu rupiah saja. Dapat korting ongkos kirim pula sebesar Rp15.000. Bila ongkir di bawah Rp15.000, otomatis kita hanya bayar Rp10.000.

Saat memesan kartu perdana, switch memberi kebebasan menentukan komposisi numerik enam digit terakhir. Saya memutuskan untuk menggunakan tanggal lahir anak tercinta. Syukurlah nomor itu belum ada yang punya.

Opsi boleh menentukan nomor sendiri selalu menarik. Bagaimana tidak, ketika kita memiliki sebuah nomor telepon yang di dalamnya terdapat komposisi tanggal lahir anak atau tanggal pernikahan misalnya, pasti sebisa mungkin bakal dipertahankan agar selalu aktif.

beli kartu perdana switch
Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Jatnika Wibiksana)



Voila! Keesokan hari, tepatnya Jumat (10/9) petang sekitar maghrib, kartu SIM pesanan sudah sampai rumah. Gercep banget. Menandakan Switch Mobile Indonesia sangat responsif dalam menjawab keinginan konsumen. Kemasannya unik, mengingatkan pada packing kartu perdana era awal 90-an ketika harganya masih ratusan ribu. Yang bikin kesengsem, ada dua ekstra di dalam kemasan yakni cutting sticker logo switch dan SIM ejector.


Nilainya memang tidak seberapa, tapi ini cukup memberi kesan mendalam pada pandangan pertama. Jika sedang dibutuhkan, kadang kita kelimpungan nyari SIM ejector sampai-sampai jarum pentul buat kerudung istri jadi korban. Cutting sticker-nya juga keren. Catchy ditempel di helm, kaca belakang mobil, atau laptop seperti yang saya lakukan. Sebuah effort yang memikat untuk memberi engagement pada kesan pertama.

Tak mau dikuasai rasa penasaran lebih lama, saya langsung meluncur ke aplikasi untuk membeli plan – sebutan otentik switch untuk kuota. Karena semuanya berbasis aplikasi, segalanya menjadi sangat menyenangkan. Punya nomor seluler tapi serasa memiliki media sosial dengan segenap aktvitasnya. Tak perlu khawatir tersesat saat berselancar. Tampilan antarmuka aplikasi switch sungguh memudahkan, bagi kalangan awam sekalipun.

Untuk tahap awal saya sengaja memilih plan paling murah, yakni Promo Lite Bar seharga Rp 60.000 untuk 6 GB. Pertimbangannya, jika kinerja paket termurah saja sudah bagus, paket yang lebih mahal sudah tentu lebih baik. Bila ‘toko sebelah’ kerap berbuat tricky dengan mempartisi kuota jadi beberapa bagian, tidak dengan switch. Setiap membeli plan, kita bakal mendapatkan kuota murni tanpa dipecah-pecah. Sebuah sikap jujur dari perilaku perusahaan provider yang sudah lama hilang.

Keotentikan switch yang tidak dimiliki operator lain bukan hanya terletak pada kejujurannya dalam urusan kuota. Beberapa layanan juga hanya bisa kita jumpai di switch. Cuma switch yang memposisikan konsumen benar-benar sebagai subyek. Kita diberi kebebasan memilih apa pun sesuai kebutuhan, mulai dari penentuan kuota internet, menit telepon, SMS, bahkan urusan jajan food and baverage serta belanja e-commerce pun tersedia beragam pilihan.

Satu yang paling menarik, kita tak perlu cemas kerampokan pulsa saat kuota tandas. Dikarenakan switch berbasis kuota, maka dijamin anti sedot pulsa. Bahkan ketika kuota habis, pengguna switch tak perlu khawatir terputus dengan koneksi internet. Berkat adanya fitur kuota darurat memungkinkan kita tetap dapat melanjutkan berbagai aktivitas daring.

review paket internet switch
Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Jatnika Wibiksana)



Selanjutnya yang paling mutakhir ialah fitur switch & match, yang baru diluncurkan 14 September kemarin. Dengan memutakhirkan aplikasi, fitur ini otomatis langsung muncul. Fitur switch & match memungkinkan kita mengatur konsumsi kuota dan/atau menit telepon bulanan sesuai keperluan. Jadi nggak ada lagi ceritanya kurang kuota atau bahkan kuota tersisa yang sudah pasti hangus begitu saja saat masa aktif berakhir. Dengan membeli plan via fitur switch & match, kita bisa mendapatkan Ekstra Data sebesar 3GB seharga Rp10.000. Uniknya penggunaan Extra Data ini bisa diatur sedemikian rupa untuk aplikasi favorit. Misalnya, berapa giga untuk Youtube, berapa giga untuk Zoom, Tik Tok, atau lainnya. Sehingga, semuanya menjadi lebih terencana dan akurat.

Menjajal Sinyal

Kesan pertama begitu menggoda. Tapi itu belum cukup. Selanjutnya harus dibuktikan dalam kehidupan nyata. Sebab bagaimanapun, elemen paling fundamental dari digital telco adalah konektivitas yang tangguh di segala medan. Terdengar lucu jika gembar-gembor tentang digital telco namun konektivitasnya payah. Pembuktian ini juga penting untuk menguji seberapa pantas switch dijadikan andalan dalam menjalani excite everyday life di tempat yang jauh dari perkotaan.

Banyak provider lain yang punya kualitas koneksi bagus di perkotaan, namun ternyata memble di wilayah pinggiran. Terlebih lagi di daerah tinggi. Maka saya memutuskan untuk menjajal sinyal bersama Si Brandal ke daerah pinggiran Bandung. So, let’s proove, Guys!

review sinyal switch
Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Jatnika Wibiksana)



Sebelum meluncur gas tipis nyemplak Si Brandal mendatangi beberapa spot, saya melakukan pembuktian pertama kualitas konektivitas switch dengan menggelar speed test di rumah pada pukul tiga dini hari. Dengan pertimbangan, pada jam segitu tak ada gawai yang nyantol ke WiFi rumah, jadi bisa lebih obyektif. Hasilnya mencengangkan. Kecepatan switch mengalahkan layanan internet berbasis kabel optik yang selama ini saya andalkan sebagai koneksi di rumah. Harap dicatat: ini tanpa rekayasa Photoshop lho ya!

Eits, tunggu dulu! Jajal sinyal ini baru dilakukan di wilayah perkotaan. Kita harus buktikan kekuatan sinyal switch di wilayah pinggiran kota, termasuk di jalur offroad. Untuk menghindari anggapan manipulasi data, saya dibantu aplikasi Strava yang tidak bisa diajak bohong dalam urusan mencatat ordinat, rute dan elevasi.

Tes 1: Stadion Jalak Harupat

review sinyal switch
Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Jatnika Wibiksana)



Ini salah satu tempat penting buat saya. Sebagai seorang bobotoh Persib, saya sering banget mengunjungi tempat ini. Berdasar pengalaman, koneksi internet sekitar Jalak Harupat sering ngeselin. Akhirnya saya mulai menjajal sinyal switch di lokasi ini dengan cara mengunggah foto di akun @brandaltriltua. Hasilnya, hanya butuh waktu dua kedip mata. Sumpah saya kaget dengan kinerja koneksi switch di spot ini.

Tes 2: Venue Gantole Cililin

review sinyal switch
Review: A #switchjourney, Menjajal Sinyal Bersama Si Brandal. (Foto: Jatnika Wibiksana)



Ini salah satu titik tertinggi di wilayah Kabupaten Bandung. Karena itulah tempat ini sempat dijadikan venue cabang olahraga gantole pada PON 2016. Untuk mencapainya, harus melewati jalanan menanjak amat curam. Ada pula jalur offroad di sekitarnya. Dengan ketinggian 1.063 mdpl, butuh koneksi internet mumpuni untuk bisa up date status di spot ini. Tak mau tanggung, jajal sinyal di tempat ini dilakukan dengan upload sebuah video dengan kapasitas 82,4 MB. Ternyata, hanya perlu waktu 16 detik. Wow, ini benar-benar amazing!

Hasil Jajal Sinyal Bersama Si Brandal mengerucut pada satu simpulan: switch memiliki konektivitas mumpuni dijadikan teman aktivitas digital, baik di medan offroad, terlebih lagi di perkotaan. Klaim sebagai pengusung format digital telco terbukti bukan omong kosong. Lain waktu, bila ada kesempatan, saya berencana menggelar  Jajal Sinyal Bersama Si Brandal ke tempat lebih jauh, yakni jalur pantai selatan Jawa Barat. Tentu saja bersama switch.

Review oleh: Jatnika Wibiksana (Juara 2 Blog Competition switch x Kompasiana).